AL-QUR’AN DAN SUNAH SEBAGAI PEDOMAN HIDUP
Titik Fokus
- Definisi Al - Qur'an dan Hadits
- Perbedaan antara sunnah, hadits, khabar, dan atsar
- Fungsi hadits terhadap al-Qur’an
- Bagaimana kandungan Q.S Al-Baqoroh/2: 285 dan Q.S. An Nisa’l/4: 136. diterapkan dalam kehidupan
- Hukum bacaan Alif Lam Qamariyah dan Alif Lam Syamsiyyah
- Karakter apa yang harus dimiliki untuk mendalami al-Qur’an dan hadits
Definisi Al - Qur'an
Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam yang berisi wahyu Allah Swt. yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat Jibril. Ia merupakan petunjuk hidup yang komprehensif (luas, menyeluruh, teliti dan meliputi banyak hal) bagi umat manusia, mencakup semua aspek kehidupan, baik spiritual, moral, sosial, maupun hukum.
Definisi Hadits
Hadits adalah segala ucapan, perbuatan, dan ketetapan yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW. Hadits berfungsi untuk menjelaskan, menguraikan, dan menerapkan ajaran yang terdapat dalam Al-Qur’an.
Fungsi hadis terhadap Al-Qur’an dapat dikategorikan sebagai berikut :
- Bayān al-Taqrīr disebut juga dengan Bayān al-Ta’kīd dan Bayān al-Iṡbat. Bayān al-Taqrīr adalah menetapkan dan memperkuat apa yang telah diterangkan di dalam Al-Qur’an. Fungsi Hadis ini memperkokoh isi kandungan Al-Qur’an.
- Bayān al-Tafsīr adalah penjelasan terhadap ayat-ayat yang memerlukan perincian atau penjelasan lebih lanjut, seperti pada ayat-ayat mujmal (umum/ global), mutlaq (tidak mempunyai batasan), dan ‘ām (umum), sehingga fungsi Hadis ini adalah memberikan perincian (tafsīr) dan penafsiran terhadap ayat-ayat yang masih mutlak dan memberikan takhsi̅s (pengkhususan) terhadap ayat-ayat yang masih umum.
- Bayān al-Tasyri’ adalah memberikan kepastian hukum Islam yang tidak ada di Al Qur’an. Biasanya Al-Qur’an hanya menerangkan pokok-pokoknya saja, contohnya zakat fitrah. Bayān al-Nasakh secara bahasa berarti ibtāl (membatalkan), izālah (menghilangkan), tahwi̅l (memindahkan) dan tagyi̅r (mengubah).
- Bayan al-Nasakh adalah membatalkan ketentuan terdahulu, sebab ketentuan yang baru dianggap lebih maslahat.
(Disadur dari Buku Siswa PAI_VII Kemendikbudristek cetakan tahun 2021, h.13)
Perbedaan Antara Sunnah, Hadits, Khabar, dan Atsar
Dalam kajian Islam, ada beberapa istilah yang sering digunakan untuk merujuk pada sumber ajaran agama selain Al-Qur’an, yaitu sunnah, hadis, khabar, dan atsar. Meskipun terkadang istilah-istilah ini digunakan secara bergantian, mereka memiliki nuansa makna yang berbeda.
1. Sunnah
Sunnah adalah istilah yang lebih luas yang mencakup segala sesuatu yang berasal dari Nabi Muhammad SAW, baik itu perkataan, perbuatan, maupun ketetapan beliau. Sunnah mencakup semua aspek kehidupan Nabi, termasuk cara beliau beribadah, berinteraksi dengan orang lain, dan berbagai kebiasaan sehari-hari.
2. Hadits
Hadits adalah laporan atau riwayat tentang apa yang Nabi Muhammad SAW katakan, lakukan, atau tetapkan. Hadits terdiri dari dua bagian utama :
a. Sanad : Rangkaian perawi (orang yang meriwayatkan hadis) yang menyampaikan hadits tersebut hingga sampai kepada Nabi Muhammad SAW.
b. Matan : Isi atau teks dari hadits itu sendiri. Hadits merupakan bagian dari sunnah, tetapi sunnah tidak terbatas pada hadits saja.
3. Khabar
Khabar secara harfiah berarti "berita" atau "kabar". Dalam konteks ilmu hadis, khabar sering digunakan sebagai sinonim dari hadits, tetapi dengan makna yang lebih luas. Khabar bisa merujuk pada berita atau laporan yang datang dari Nabi Muhammad SAW (sama dengan hadits), tetapi juga bisa merujuk pada laporan yang datang dari sahabat, tabi'in, atau bahkan selain mereka. Jadi, khabar mencakup semua jenis berita atau informasi yang relevan dengan ajaran Islam.
4. Atsar
Atsar secara harfiah berarti "jejak" atau "bekas". Dalam konteks ilmu hadits, atsar merujuk pada ucapan, perbuatan, atau ketetapan yang berasal dari sahabat Nabi atau tabi'in (generasi setelah sahabat). Atsar bisa digunakan untuk menunjukkan bagaimana sahabat atau tabi'in mengamalkan ajaran Islam berdasarkan pemahaman mereka terhadap sunnah Nabi. Jadi, atsar biasanya tidak merujuk langsung kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi lebih kepada generasi pertama dan kedua umat Islam.
Perbedaan Utama
Sunnah adalah istilah umum yang mencakup semua tindakan, ucapan, dan ketetapan Nabi Muhammad SAW. Hadits adalah laporan spesifik tentang apa yang Nabi Muhammad SAW katakan, lakukan, atau tetapkan, dan terdiri dari sanad dan matan. Khabar adalah istilah yang lebih umum daripada hadis dan bisa mencakup berita atau laporan dari Nabi, sahabat, tabi'in, atau lainnya. Atsar merujuk pada ucapan, perbuatan, atau ketetapan sahabat Nabi atau tabi'in, bukan langsung dari Nabi Muhammad SAW. Dengan memahami perbedaan ini, kita dapat lebih tepat dalam menggunakan istilah-istilah tersebut dan memahami sumber-sumber ajaran Islam dengan lebih baik.
Karakter yang Harus Dimiliki untuk Mendalami Al-Qur’an dan Hadis
Untuk mendalami Al-Qur’an dan hadis, seseorang harus memiliki karakteristik berikut :
1. Keikhlasan
Niat yang tulus dan ikhlas untuk memahami dan mengamalkan ajaran Allah dan Rasul-Nya.
2. Ketakwaan
Memiliki rasa takut dan cinta kepada Allah yang mendorong untuk menjauhi maksiat dan menjalankan perintah-Nya.
3. Kesabaran dan Ketekunan
Kesabaran dalam belajar dan ketekunan dalam menjalankan apa yang telah dipelajari.
4. Kecerdasan dan Kritis
Kemampuan berpikir kritis untuk memahami konteks dan makna dari ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis.
5. Rendah Hati
Kesediaan untuk terus belajar dan menerima kebenaran dari sumber yang sahih.
6. Adab dan Akhlak yang Baik
Memiliki akhlak yang baik dalam berinteraksi dengan sesama dan dalam kehidupan sehari-hari sebagai cerminan dari ajaran yang dipelajari.
Menumbuhkan Keimanan yang Kuat dan Cinta kepada Al-Qur’an
1. Membaca dan Merenungkan Al-Qur’an
Membaca Al-Qur’an secara rutin dan merenungkan makna setiap ayat akan menumbuhkan kecintaan dan pemahaman yang lebih dalam.
2. Memahami Tafsir Al-Qur’an
Belajar tafsir Al-Qur’an untuk memahami konteks dan penjelasan dari setiap ayat.
3. Mengamalkan Ajaran Al-Qur’an dan Hadits
Menerapkan ajaran Al-Qur’an dan hadis dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk pengabdian dan ketaatan kepada Allah.
4. Berkumpul dengan Orang-orang Saleh
Berinteraksi dan belajar dari orang-orang yang memiliki pemahaman dan kecintaan yang mendalam terhadap Al-Qur’an dan hadits.
5. Berdoa kepada Allah
Memohon kepada Allah untuk diberikan hidayah, pemahaman, dan kecintaan terhadap Al-Qur’an dan hadits.
Pondasi Sebagai Umat Muslim yang Mencintai Al-Qur’an
1. Keimanan yang Kuat
Membangun keyakinan yang kokoh terhadap kebenaran Al-Qur’an dan hadits sebagai pedoman hidup.
2. Ilmu Pengetahuan
Terus belajar dan memperdalam ilmu agama untuk memahami ajaran Al-Qur’an dan hadits dengan benar.
3. Praktik dan Pengamalan
Mengamalkan ajaran Al-Qur’an dan hadits dalam kehidupan sehari-hari, sehingga menjadi cermin dari ajaran Islam yang rahmatan lil 'alamin.
4. Dakwah dan Penyebaran Ilmu
Mengajak orang lain untuk memahami dan mencintai Al-Qur’an dan hadis, serta mengamalkannya dalam kehidupan.
Dengan bertafakur, merenung, dan mengamalkan ajaran Al-Qur’an dan hadits, seorang muslim dapat membangun pondasi keimanan yang kokoh dan menjadi pribadi yang mencintai Al-Qur’an serta menjadikannya pedoman dalam setiap aspek kehidupannya.
Al - Qur'an surat Al - Baqarah/2 : 285
Link : Al - Qur'an dan Terjemahnya
(Pustaka Lajnah : https://pustakalajnah.kemenag.go.id/ )

(Pustaka Lajnah : https://pustakalajnah.kemenag.go.id/ )

Sebab Nuzul Al - Qur'an surat Al - Baqarah/2 : 285
Ayat ini turun berkenaan dengan beberapa sahabat Nabi SAW yang merasa berat mengamalkan Surah al-Baqarah/2: 284. Tahu akan kondisi para saha-batnya, Nabi meminta mereka untuk selalu menaati segala perintah Allah yang termaktub dalam Al-Qur’an.
(Disadur dari Buku Asbabun Nuzul : Muchlis M. Hanafi (ed.) cetakan tahun 2017, h.136)Al - Qur'an surat An Nisa’l/4: 136
Link : Al - Qur'an dan Terjemahnya
(Pustaka Lajnah : https://pustakalajnah.kemenag.go.id/ )


Kandungan Q.S Al-Baqoroh/2: 285 Dan Q.S. An Nisa’l/4: 136. Diterapkan Dalam Kehidupan
Terjemahan Al - Qur'an surat Al - Baqarah/2 : 285
"Rasul telah beriman kepada Al-Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan), "Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara rasul-rasul-Nya," dan mereka mengatakan, "Kami mendengar dan kami taat." (Mereka berdoa), "Ampunilah kami ya Tuhan kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali."
Kandungan dan Penerapan Al - Qur'an surat Al - Baqarah/2 : 285
1. Keimanan Kepada Allah dan Rasul-Nya
Ayat ini menekankan pentingnya iman kepada Allah dan semua rasul-Nya tanpa membeda-bedakan. Dalam kehidupan sehari-hari, ini bisa diterapkan dengan menghormati semua nabi dan ajarannya serta menjalankan perintah Allah dengan penuh keyakinan dan ketaatan.
2. Taat dan Mendengar
Umat Islam diperintahkan untuk mendengar dan taat kepada perintah Allah dan Rasul-Nya. Ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dengan menjalankan syariat Islam secara konsisten, seperti menjalankan sholat, berpuasa, dan menghindari hal-hal yang dilarang.
3. Doa dan Permohonan Ampunan
Ayat ini menunjukkan pentingnya berdoa dan memohon ampunan kepada Allah. Dalam kehidupan, kita sebaiknya selalu berdoa untuk petunjuk dan perlindungan serta memohon ampunan atas kesalahan yang dilakukan.
4. Akhirat Sebagai Tujuan Akhir
Menyadari bahwa kehidupan dunia ini sementara dan tujuan akhir adalah kembali kepada Allah. Ini mendorong kita untuk hidup dengan kesadaran akan pertanggungjawaban di akhirat, sehingga selalu berusaha berbuat baik dan menghindari dosa.
Terjemahan Al - Qur'an surat An Nisa’l/4: 136
"Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barang siapa kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sungguh, orang itu telah tersesat sangat jauh."
Kandungan dan Penerapan Al - Qur'an surat An Nisa’l/4: 136
1. Konsistensi Dalam Iman
Ayat ini mengajak umat Islam untuk tetap konsisten dalam keimanan mereka kepada Allah, Rasul-Nya, Al-Qur'an, dan kitab-kitab sebelumnya. Ini bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dengan terus memperbaharui dan memperdalam iman, misalnya melalui ibadah, kajian agama, dan introspeksi diri.
2. Pentingnya Keyakinan Terhadap Hari Akhir
Keimanan terhadap hari akhir adalah salah satu rukun iman yang penting. Kesadaran akan adanya kehidupan setelah mati akan mempengaruhi cara kita menjalani kehidupan di dunia, yaitu dengan lebih berhati-hati dalam bertindak dan berbuat.
3. Menghindari Kekafiran
Ayat ini memperingatkan tentang bahaya kekafiran dan menjauhkannya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sebaiknya menjauhi segala bentuk perbuatan yang dapat membawa kita pada kekafiran, seperti meninggalkan ibadah wajib, melakukan dosa besar, dan meragukan kebenaran ajaran Islam.
4. Membangun Ketaatan
Ayat ini juga menekankan pentingnya taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Ini bisa diterapkan dengan mematuhi ajaran Islam secara menyeluruh dan menjadikan ajaran tersebut sebagai pedoman utama dalam segala aspek kehidupan.
Kedua ayat ini menekankan pentingnya keimanan yang kokoh kepada Allah, Rasul-Nya, malaikat, kitab-kitab, dan hari akhir serta ketaatan yang konsisten terhadap ajaran agama. Penerapan dalam kehidupan sehari-hari meliputi menjalankan perintah agama, menjauhi larangan-Nya, terus memperbaharui iman, dan hidup dengan kesadaran akan pertanggungjawaban di akhirat.
Hukum bacaan Alif Lam Qamariyah dan Alif Lam Syamsiyyah
Dalam ilmu tajwid, hukum bacaan Alif Lam (اَلْ) terbagi menjadi dua jenis, yaitu Alif Lam Qamariyah dan Alif Lam Syamsiyyah. Kedua jenis ini memiliki aturan bacaan yang berbeda saat bertemu dengan huruf-huruf tertentu. Berikut adalah penjelasan mengenai masing-masing hukum bacaan tersebut :
1. Alif Lam Qamariyah (اللام القمرية)
Alif Lam Qamariyah adalah Alif Lam yang diikuti oleh huruf Qamariyah. Huruf Qamariyah ada 14, yaitu :
ا، ب، ج، ح، خ، ع، غ، ف، ق، ك، م، و، ه، ي
Hukum Bacaan :
Dibaca jelas (izhar) dengan suara "L" dari Alif Lam terdengar.
Contoh :
الْقَمَرُ (al-qamaru) – bulan
الْكِتَابُ (al-kitabu) – buku
2. Alif Lam Syamsiyyah (اللام الشمسية)
Alif Lam Syamsiyyah adalah Alif Lam yang diikuti oleh huruf Syamsiyyah. Huruf Syamsiyyah juga ada 14, yaitu:
ت، ث، د، ذ، ر، ز، س، ش، ص، ض، ط، ظ، ل، ن
Hukum Bacaan :
Huruf "L" dari Alif Lam tidak dibaca jelas dan dilebur (idgham) ke dalam huruf berikutnya.
Huruf berikutnya di-tasydid (diberi tanda tasydid) sehingga dibaca rangkap.
Contoh :
الشَّمْسُ (ash-shamsu) – matahari
النَّجْمُ (an-najmu) – bintang
Cara Membedakan :
- Alif Lam Qamariyah: Jika setelah "Al" terdapat salah satu dari 14 huruf Qamariyah, maka huruf "L" dibaca jelas.
- Alif Lam Syamsiyyah: Jika setelah "Al" terdapat salah satu dari 14 huruf Syamsiyyah, maka huruf "L" dilebur dan huruf berikutnya di-tasydid.
Praktik Membaca :
الْبَيْتُ (al-baitu) – rumah:
Qamariyah : Huruf "ب" termasuk huruf Qamariyah, sehingga dibaca jelas "Al-Baitu".
النَّاسُ (an-naasu) – manusia :
Syamsiyyah : Huruf "ن" termasuk huruf Syamsiyyah, sehingga huruf "L" dilebur dan "ن" di-tasydid, dibaca "An-Naasu". Dengan memahami hukum bacaan Alif Lam Qamariyah dan Alif Lam Syamsiyyah, kita dapat membaca Al-Qur'an dengan benar sesuai aturan tajwid yang telah ditetapkan.
Mari kita bertafakur, merenung, dan mengamalkan ajaran Al-Qur’an dan Sunah sebagai pedoman hidup kita. Dengan memahami dan mengamalkan ajaran ini, kita dapat membangun kehidupan yang diridhai Allah dan mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Semoga Allah SWT memberikan kita hidayah dan kekuatan untuk terus istiqamah dalam menjalani ajaran-Nya. Aamiin.
Terimakasih semoga bermanfaat!
