Materi Kelas VII CP Baru_Bab III : "Mari Menghadirkan Ikhlas Beramal Dalam Kehidupan"

 

 "Mari Menghadirkan Ikhlas Beramal Dalam Kehidupan"

Titik Fokus

  1. Makna Ikhlas 
  2. Makna Beramal Shaleh
  3. Beramal shaleh kaitanya dengan Allah SWT. (hablumminallah) dan sesama manusia (hablumminanaas)
  4. Makna shalat
  5. Makna Zikir
  6. Shalat dan zikir mencegah perbuatan keji dan munkar
  7. Mengamalkan shalat lima waktu dan zikir secara konsisten ( istiqomah )

Definisi Ikhlas

    Ikhlas berasal dari bahasa Arab yang berarti kemurnian atau kesucian hati dalam melakukan suatu amal hanya karena Allah Swt. semata. Ikhlas dalam beramal adalah melakukan sesuatu dengan tujuan semata-mata untuk mendapatkan ridha Allah SWT. tanpa memperhitungkan pujian, imbalan, atau pengakuan dari manusia.

Dalil Naqli tentang Ikhlas

Firman Allah dalam Surah Al-Bayyinah Ayat 5 :

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

    Artinya: "Dan mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah SWT. dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Dan yang demikian itu adalah agama yang lurus."

Maksud dari Arti QS. Al-Bayyinah Ayat 5 :

    Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama penciptaan manusia adalah untuk menyembah Allah SWT dengan sepenuh keikhlasan dalam menjalankan agama-Nya. Allah SWT. tidak memerintahkan manusia untuk beribadah atau melakukan amal perbuatan yang bercampur dengan niat selain mencari ridha-Nya. Ibadah yang dilakukan harus tulus dan sesuai dengan aturan-aturan yang telah Allah SWT. tetapkan dalam Islam.
    Ayat ini juga menekankan dua ibadah penting, yaitu shalat dan zakat. Shalat merupakan bentuk ketaatan kepada Allah SWT. secara langsung (hablumminallah), yang menunjukkan ketundukan, pengakuan akan kebesaran Allah SWT., serta penghambaan diri. Sementara zakat adalah kewajiban yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan sesama (hablumminannas), di mana seorang muslim harus berbagi sebagian hartanya kepada orang yang membutuhkan sebagai wujud kepedulian sosial dan ibadah kepada Allah SWT.
    Frasa “dan yang demikian itu adalah agama yang lurus” mengisyaratkan bahwa inilah inti ajaran Islam yang benar, yaitu ibadah dengan niat yang ikhlas kepada Allah SWT. dan memperhatikan tanggung jawab terhadap sesama manusia.
    Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa ayat ini menegaskan bahwa agama yang lurus dan benar adalah agama yang menuntut keikhlasan dalam beribadah kepada Allah SWT. semata, serta menekankan pentingnya melaksanakan kewajiban-kewajiban agama seperti shalat dan zakat. Ketaatan kepada Allah SWT. dan kepedulian terhadap sesama melalui amal shaleh adalah bagian integral dari agama Islam. Ibadah dan amal yang dilakukan tanpa ikhlas tidak akan bernilai di sisi Allah SWT.

Dalil Aqli tentang Ikhlas

    Ikhlas adalah prinsip moral yang mendasari tindakan kita, karena ketika niat kita murni hanya untuk Allah, maka tindakan tersebut menjadi lebih bermakna dan mendatangkan keberkahan.

Berikut adalah beberapa hadits tentang ikhlas dalam beramal yang menekankan pentingnya niat yang murni dalam melakukan amal :

1. Hadits tentang Niat
Hadits dari Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ."

Artinya:
"Sesungguhnya segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang dia niatkan." (HR. Bukhari dan Muslim).

    Hadits ini menegaskan bahwa niat sangat menentukan kualitas amal, dan niat yang ikhlas hanya untuk Allah SWT. akan mendapatkan balasan dari Allah SWT.

2. Hadits tentang Orang yang Beramal dengan Riya'
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ، وَلَا إِلَى صُوَرِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ."

Artinya:
"Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada jasad dan rupa kalian, tetapi Allah SWT. melihat kepada hati dan amal kalian." (HR. Muslim).

    Hadits ini mengajarkan bahwa yang dilihat Allah SWT. adalah hati dan niat yang terkandung di dalamnya, bukan sekadar bentuk lahiriah atau penampilan luar dalam beramal.

3. Hadits tentang Amal yang Diterima Allah SWT.
Dari Abu Umamah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا، وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ."

Artinya:
"Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali yang dilakukan dengan ikhlas dan hanya mengharapkan wajah-Nya." (HR. Nasa’i).

    Hadits ini menjelaskan bahwa Allah SWT. hanya menerima amal yang dilakukan dengan niat yang tulus ikhlas karena-Nya, bukan untuk tujuan duniawi atau pujian dari manusia.

4. Hadits tentang Ancaman bagi Orang yang Beramal untuk Selain Allah SWT.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Allah Ta'ala berfirman, 'Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang melakukan suatu amalan dan dia menyekutukan Aku dengan selain-Ku (melakukan amal karena ingin dipuji selain Allah), maka Aku tinggalkan dia bersama sekutunya itu (amalnya tidak diterima oleh Allah SWT).'" (HR. Muslim).

    Hadits ini memperingatkan bahwa amal yang dilakukan bukan karena Allah SWT, tetapi untuk mendapatkan pujian manusia, tidak akan diterima oleh Allah SWT.

    Dari hadits-hadits di atas, kita dapat memahami bahwa ikhlas merupakan kunci diterimanya amal di sisi Allah SWT. Amal yang dilakukan dengan niat yang ikhlas semata-mata karena Allah SWT. akan mendapatkan balasan yang besar, sedangkan amal yang disertai dengan riya' atau niat duniawi tidak akan diterima.

    Beramal Shaleh dan Hubungannya dengan Allah SWT. (Hablumminallah) dan Sesama Manusia (Hablumminanas). Beramal shaleh adalah melakukan amal baik yang ditujukan baik kepada Allah SWT. maupun kepada sesama manusia dengan niat yang ikhlas.

Contoh Beramal Ikhlas Hubungannya dengan Allah Swt. (Hablumminallah)

1. Shalat : Melakukan shalat lima waktu dengan penuh khusyu' dan mengharapkan pahala dari Allah SWT. semata.
2. Puasa : Berpuasa di bulan Ramadhan dengan menjaga niat ikhlas hanya karena Allah SWT.
3. Membaca Al-Qur'an : Membaca Al-Qur'an setiap hari untuk mendapatkan petunjuk dari Allah SWT. semata.

Contoh Beramal Ikhlas Hubungannya dengan Sesama Manusia (Hablumminanas)

1. Mengeluarkan Zakat : Mengeluarkan zakat kepada fakir miskin dengan niat ikhlas membantu sesama.
2. Memberi Sadaqah : Memberikan sumbangan kepada fakir miskin dengan niat ikhlas membantu sesama.
3. Menolong Sesama : Menolong tetangga yang sedang kesulitan dengan ikhlas tanpa pamrih.
4. Memberikan Ilmu : Mengajarkan ilmu pengetahuan kepada anak yatim atau orang yang membutuhkan dengan tujuan menyebarluaskan ilmu dan mendapatkan ridha Allah SWT.

Cara Beramal dengan Ikhlas

1. Memahami Tujuan Akhir : Sadari bahwa tujuan akhir dari amal baik adalah mendapatkan ridha Allah SWT. semata.
2. Membersihkan Niat : Bersihkan niat agar tidak tercampur dengan tujuan dunia atau pujian manusia.
3. Teguh dalam Praktik : Konsisten dalam melakukan amal baik dengan ikhlas, meskipun tanpa diketahui orang lain.
4. Menghindari Riya' : Jauhi perilaku riya' atau pamer dalam beramal, karena itu dapat merusak ikhlas.

Hikmah Ikhlas dalam Beramal Shaleh

1. Amal Diterima oleh Allah SWT 
    Amal shaleh yang dilakukan dengan ikhlas semata-mata karena Allah SWT. akan diterima oleh-Nya. Keikhlasan adalah syarat utama diterimanya amal ibadah. Tanpa niat ikhlas, amal tersebut bisa dianggap sia-sia di sisi Allah SWT, sebagaimana disampaikan dalam hadits :

"Sesungguhnya Allah SWT. tidak menerima amal kecuali yang dilakukan dengan ikhlas dan hanya mengharapkan wajah-Nya." (HR. Nasa’i).

2. Mendapatkan Pahala yang Berlipat Ganda 
    Ketika seseorang melakukan amal shaleh dengan niat yang ikhlas, Allah SWT. akan melipatgandakan pahala amal tersebut. Amal yang dilakukan tanpa mencari pujian dari manusia akan dinilai lebih tinggi di sisi Allah SWT.

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah SWT. adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai ada seratus biji. Allah SWT. melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Baqarah: 261).

3. Menghilangkan Perasaan Riya' dan Ujub 
    Ikhlas beramal shaleh dapat menghilangkan sifat riya' (melakukan amal untuk dilihat orang lain) dan ujub (bangga diri). Orang yang ikhlas tidak peduli dengan pujian atau celaan manusia, dan hanya fokus pada ridha Allah SWT. Hal ini menjaga hati agar tetap rendah hati dan tidak terjebak dalam godaan mencari ketenaran atau pengakuan dari orang lain.

4. Menjaga Hati Tetap Tenang dan Lapang 
    Amal yang dilakukan dengan ikhlas akan menimbulkan ketenangan batin. Orang yang ikhlas tidak akan merasa khawatir atau kecewa jika amalnya tidak dihargai oleh orang lain. Mereka yakin bahwa Allah SWT. pasti melihat dan membalas amal kebaikan tersebut, sehingga hati mereka akan selalu tenang dan lapang.

“Tidaklah seseorang bersedekah dengan sesuatu yang lebih baik daripada sedekah yang diberikan secara diam-diam. Dan hal itu dapat memadamkan kemarahan Tuhan, serta menenangkan hati yang gelisah.” (HR. Tirmidzi).

5. Mendapatkan Pertolongan dari Allah SWT 
    Seseorang yang ikhlas dalam beramal shaleh akan mendapatkan pertolongan dari Allah SWT. dalam kehidupannya. Allah SWT. akan memudahkan jalan hidup mereka dan memberikan rahmat serta keberkahan dalam segala urusan. Ikhlas dalam beramal mendekatkan hamba kepada Allah SWT. dan membuatnya senantiasa berada dalam lindungan dan pertolongan-Nya.

6. Amal Shaleh Menjadi Penolong di Akhirat 
    Amal shaleh yang dilakukan dengan ikhlas akan menjadi bekal yang menyelamatkan di hari kiamat. Amal tersebut akan dihisab dengan baik dan menjadi penolong bagi seseorang di akhirat. Tanpa keikhlasan, amal shaleh tidak akan memiliki bobot di hadapan Allah SWT.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya pada hari kiamat, amal-amal akan dihadapkan. Maka shalat, zakat, dan puasa diletakkan di timbangan yang pertama. Apabila sempurna, maka diterimalah amal tersebut. Namun, apabila terdapat kekurangan, dikatakan: ‘Lihatlah, apakah dia memiliki amal-amal tambahan?’ Maka, ditambahlah amal tersebut hingga sempurna timbangan amalnya dengan keikhlasan.” (HR. Abu Dawud).

7. Mendapatkan Kebahagiaan dan Keberkahan Hidup 
    Orang yang ikhlas dalam beramal akan mendapatkan kebahagiaan dan keberkahan dalam hidupnya. Mereka akan merasakan ketenangan hati, keberlimpahan rezeki, dan hubungan yang harmonis dengan orang lain. Amal shaleh yang dilakukan dengan ikhlas menarik rahmat dan keberkahan dari Allah SWT., sehingga hidup menjadi lebih berkualitas dan penuh kebaikan.

8. Membentuk Karakter yang Lebih Mulia 
    Keikhlasan dalam beramal shaleh membentuk seseorang menjadi pribadi yang lebih mulia dan bijaksana. Orang yang ikhlas akan terhindar dari sifat sombong, iri hati, atau dengki. Mereka juga cenderung lebih dermawan dan penuh empati terhadap sesama. Karakter yang dibangun oleh keikhlasan ini menjadikan seseorang lebih dekat kepada Allah SWT. dan lebih dihargai oleh sesama manusia.

    Ikhlas dalam beramal shaleh memiliki hikmah yang sangat besar, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Keikhlasan menjadi syarat utama diterimanya amal oleh Allah SWT, meningkatkan pahala, menjaga hati dari riya' dan ujub, serta mendatangkan ketenangan batin. Selain itu, orang yang ikhlas akan mendapatkan pertolongan dari Allah SWT, keberkahan hidup, dan kebahagiaan, serta amalnya akan menjadi penolong di akhirat. Dengan ikhlas, amal shaleh tidak hanya bernilai ibadah di mata Allah SWT, tetapi juga membentuk karakter pribadi yang lebih baik, rendah hati, dan dermawan. Oleh karena itu, menjaga keikhlasan dalam setiap amal sangat penting untuk meraih kebahagiaan sejati dan ridha Allah SWT. Dengan mempraktikkan ikhlas dalam beramal shaleh, kita tidak hanya mendapatkan pahala dari Allah SWT, tetapi juga memperbaiki hubungan kita dengan sesama manusia, menjadikan kehidupan lebih bermakna dan berkah.


    Catatan : Untuk Materi Tambahan Titik Fokus point ke 4 s.d 7 hal 55 s.d 64 Buku Pendamping Siswa Kurikulum Merdeka cetakan tahun 2021

Posting Komentar

Semoga bermanfaat untuk para pembaca ...!

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak