Materi Kelas VII CP Baru_Bab VIII : "Menjadi Hamba Allah Swt. Yang Pandai Bersyukur"



Menjadi Hamba Allah Swt. Yang Pandai Bersyukur

Titik Fokus

  1. Definisi dan Hakikat Makna Syukur
  2. Konsep dasar Syukur dalam al-Qur’an dan Hadits
  3. Manfaat Syukur
  4. Cara Mengembangkan sikap Syukur
  5. Penghalang Syukur

A. Definisi dan Hakikat Makna Syukur

Syukur (al-hamd) dalam bahasa Arab berasal dari kata dasar "hamida" yang artinya memuji. Secara istilah, syukur adalah sikap mengakui dan mengungkapkan rasa terima kasih atas nikmat yang diterima dari Allah SWT. Makna syukur meliputi kesadaran akan nikmat Allah, pengakuan bahwa segala nikmat berasal dari-Nya, dan ungkapan terima kasih yang tulus atas nikmat tersebut. Syukur adalah menunjukan atau menggambarkan suatu nikmat dan menampakkannya.Cara mensyukuri nikmat iman dan Islam ialah dengan cara : Bersyukur dengan hati, Bersyukur dengan Ucapan, Bersyukur dengan perbuatan, Bersyukur dengan harta, Fondasi dari amal ibadah yaitu: Ikhlas, Bala’ atau Ujian dari Allah, Menjaga Lisan, Jujur, Takwa dan Tawakal.

Syukur adalah mengingat-ingat kenikmatan dan menampakkannya. Dengan demikian syukur berarti menghadirkan ingatan limpahan nikmat yang Allah berikan. Syukur Merupakan Rangkaian yang sangat erat dengan Amal (tindakan, aktifitas, ketaatan) dimana amal merupakan refleksi dari kesyukuran itu sendiri. Antara amal dan syukur  bagai mata uang yang tidak terpisahkan. Orang yang bersyukur senantiasa menggunakan kesempatan untuk selalu mengabdi pada Allah SWT.

Menurut pendapat Abu sa’id al-Kharraz dalam buku (Abidin, 2014) mengatakan bahwa syukur adalah mengakui nikmat kepada yang memberi nikmat dan menyatakan rububiyahnya. Bersyukur berarti sadar bahwa segala bentuk nikmat yang akan datang tak mungkin dari selain Allah SWT. Diantara dasar perintah bersyukur sebagaimana dalam al-Qur’an surah Al- Baqarah ayat 152.

Allah SWT berfirman Q.S Al- Baqarah ayat 152 :


Artinya : "Maka, ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku."

Tafsir Wajiz :"{Atas semua kenikmatan itu, Allah menyuruh kaum muslim untuk selalu mengingat-Nya. Maka ingatlah kepada-Ku, baik melalui lisan dengan melafalkan pujian, melalui hati dengan mengingat kekuasaan dan kebijaksanaan Allah, maupun melalui fisik dengan menaati Allah. Jika kamu mengingatku, Aku pun pasti akan ingat kepadamu dengan melimpahkan pahala, pertolongan, dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Bersyukurlah pula kepada-Ku atas nikmat-Ku dengan menggunakannya di jalan-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku, kepada nikmat-nikmatku, dan mempergunakannya untuk berbuat maksiat.}"

Tafsir Tahlili :"{Maka dengan nikmat yang telah dianugerahkan Allah kepada kaum Muslimin, hendaklah mereka selalu ingat kepada-Nya, baik di dalam hati maupun dengan lisan, dengan jalan tahmid (membaca al-Ḥamdulillāh), tasbih (membaca Subḥanallāh), dan membaca Al-Qur’an dengan jalan memikirkan alam ciptaan-Nya untuk mengenal, menyadari dan meresapkan tanda-tanda keagungan, kekuasaan dan keesaan-Nya. Apabila mereka selalu mengingat Allah, Dia pun akan selalu mengingat mereka pula. hendaklah mereka bersyukur kepada-Nya atas segala nikmat yang telah dianugerahkan-Nya dengan jalan melaksanakan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan-Nya dan dengan jalan memuji serta bertasbih dan mengakui kebaikan-Nya. Di samping itu, janganlah mereka mengkufuri nikmat-Nya dengan menyia-nyiakan dan mempergunakannya di luar garis-garis yang telah ditentukan-Nya.}"

Syukur adalah sarana untuk memanfaatkan dan memelihara karunianya. Hati yang bersyukur dapat memperkuat dan memantapkan kebaikan yang sudah dilakukan serta akan menghasilkan kebaikan yang belum ada. Orang awam hanya bersyukur bila memperoleh rezeki material. Sementara orang-orang yang memperoleh pencerahan batin selalu bersyukur, baik ketika memperoleh nikmat atau pun tidak. Orang yang telah memperoleh nur Ilahi tidak mempedulikan nikmat maupun penderitaan, karena mereka melihat karunia dan rahmat Allah dibalik semua penampakan dan pengalaman, memenuhi ajakan penyeru Allah dan kehiduan akhirat itulah yang dinamakan syukur, karena pada dasarnya agama berporos pada dua prinsip yaitu tekad yang kuat dan keteguhan hati. Pada dasarnya syukur adalah lurusnya tekad dan sabar adalah keteguhan hati yang telah dikuatkan dengan pertolongan dan hidayah Allah SWT.

B. Konsep Dasar Syukur dalam al-Qur’an dan Hadits

Al-Qur'an mengajarkan bahwa syukur adalah bentuk ibadah yang dianjurkan dan merupakan pengakuan atas nikmat Allah SWT. Sedangkan Hadits mengajarkan bahwa Allah SWT. mencintai hamba-Nya yang bersyukur dan melarang ketidaksyukuran. 

Allah SWT berfirman Q.S Ibrahim ayat 7 :
Artinya " (Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.”

Tafsir Wajiz :"{Dan ingatlah pula ketika Tuhanmu memaklumkan suatu maklumat yang dikukuhkan, “Sesungguhnya Aku bersumpah, jika kamu bersyukur atas nikmat-nikmat-Ku kepadamu, niscaya Aku akan menambah kepadamu nikmat lebih banyak lagi, tetapi sebaliknya, jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka pasti azab-Ku sangat berat.}"

Tafsir Tahlili :"{Dalam ayat ini Allah swt kembali mengingatkan hamba-Nya untuk senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah dilimpahkan-Nya. Bila mereka melaksanakannya, maka nikmat itu akan ditambah lagi oleh-Nya. Sebaliknya, Allah juga mengingatkan kepada mereka yang mengingkari nikmat-Nya, dan tidak mau bersyukur bahwa Dia akan menimpakan azab-Nya yang sangat pedih kepada mereka. Mensyukuri rahmat Allah bisa dilakukan dengan berbagai cara. Pertama, dengan ucapan yang setulus hati; kedua, diiringi dengan perbuatan, yaitu menggunakan rahmat tersebut untuk tujuan yang diridai-Nya. Dalam kehidupan sehari-hari, dapat kita lihat bahwa orang-orang yang dermawan dan suka menginfakkan hartanya untuk kepentingan umum dan menolong orang, pada umumnya tak pernah jatuh miskin ataupun sengsara. Bahkan, rezekinya senantiasa bertambah, kekayaannya makin meningkat, dan hidupnya bahagia, dicintai serta dihormati dalam pergaulan. Sebaliknya, orang-orang kaya yang kikir, atau suka menggunakan kekayaannya untuk hal-hal yang tidak diridai Allah, seperti judi atau memungut riba, maka kekayaannya tidak bertambah, bahkan lekas menyusut. Di samping itu, ia senantiasa dibenci dan dikutuk orang banyak, dan di akhirat memperoleh hukuman yang berat.}"

Allah SWT berfirman Q.S Ar-Rahman ayat 13 :
Artinya : "Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?"

Tafsir Wajiz :"{Setelah memaparkan nikmat dan anugerah-Nya, Allah lalu menantang jin dan manusia, “Wahai manusia dan jin, nikmat-nikmat Allah begitu banyak, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan, Apakah nikmat yang sudah disebutkan ataukah yang lainnya?}"

Tafsir Tahlili :"{Allah menantang manusia dan jin; nikmat manakah dari nikmat-nikmat yang telah mereka rasakan itu yang mereka dustakan. Yang dimaksud dengan pendustaan nikmat-nikmat tersebut adalah kekafiran mereka terhadap Tuhan mereka, karena mempersekutukan tuhan-tuhan mereka dengan Allah. Dalam peribadatan adalah bukti tentang kekafiran mereka terhadap tuhan mereka, karena nikmat-nikmat itu harus disyukuri, sedangkan syukur artinya menyembah yang memberi nikmat-nikmat kepada mereka. Ayat tersebut diulang-ulang dalam surah ini tiga puluh satu kali banyaknya untuk memperkuat tentang adanya nikmat dan untuk memperingatkannya. Dari itu, sambil Allah menyebut satu persatu dari nikmat-nikmat tersebut Dia memi-sahkannya dengan kata-kata memperingati dan memperkuat tentang adanya nikmat-nikmat tersebut. Susunan kata serupa ini banyak terdapat dalam bahasa Arab, dari itu telah menjadi kebiasaan bahwa seorang mengatakan kepada temannya yang telah menerima kebaikannya, tetapi ia mengingkarinya. “Bukankah engkau dahulu miskin, lalu aku menolongmu sehingga berkecukupan? Apakah engkau meng-ingkarinya? Bukankah engkau dahulu tidak berpakaian, maka aku memberi pa-kaian; apakah engkau mengingkarinya? Bukankah engkau dahulu tidak dikenal, maka aku mengangkat derajatmu, lalu engkau menjadi dikenal apakah engkau mengingkarinya?” Seakan-akan Allah swt berkata, “Bukankah Aku menciptakan manusia, mengajarnya pandai berbicara, Aku jadikan matahari dan bulan beredar menu-rut perhitungan. Aku jadikan bermacam-macam kayu-kayuan. Aku jadikan aneka ragam buah-buahan, baik di dusun-dusun maupun di bandar-bandar untuk mereka yang beriman dan kafir kepada-Ku, terkadang Aku menyiraminya dengan air hujan, adakalanya dengan air sungai dan alur-alur; apakah kamu hai manusia dan jin mengingkari yang demikian itu?}"

Allah SWT berfirman Q.S Al-Baqarah · Ayat 172
Artinya : "Wahai orang-orang yang beriman, makanlah apa-apa yang baik yang Kami anugerahkan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah jika kamu benar-benar hanya menyembah kepada-Nya."

Tafsir Wajiz :"{Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang sehat, aman dan tidak berlebihan, dari yang Kami berikan kepada kamu melalui usaha yang kamu lakukan dengan cara yang halal. Dan bersyukurlah kepada Allah dengan mengakui bahwa semua rezeki berasal dari Allah dan kamu harus memanfaatkannya sesuai ketentuan Allah jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.}"

Tafsir Tahlili :"{Di dalam ayat ini ditegaskan agar seorang mukmin makan makanan yang baik yang diberikan Allah, dan rezeki yang diberikan-Nya itu haruslah disyukuri. Dalam ayat 168 perintah makan makanan yang baik-baik ditujukan kepada manusia umumnya. Karenanya, perintah itu diiringi dengan larangan mengikuti ajaran setan. Sedangkan dalam ayat ini perintah ditujukan kepada orang mukmin saja agar mereka makan rezeki Allah yang baik-baik. Sebab itu, perintah ini diiringi dengan perintah mensyukurinya.}"

Hadits Tentang Syukur :



C. Manfaat Syukur

  1. Mendekatkan diri kepada Allah : Allah menyukai hamba-Nya yang bersyukur.
  2. Menjauhkan diri dari keserakahan : Sikap syukur mengajarkan kemandirian dan mengurangi kecenderungan untuk mengejar materi semata.
  3. Meningkatkan kebahagiaan : Orang yang bersyukur cenderung lebih bahagia dan puas dengan apa yang dimilikinya.

D. Cara Mengembangkan sikap Syukur

  1. Mengenali dan Menghargai Nikmat : Sadari dan akui setiap nikmat yang diberikan Allah.
  2. Berterima Kasih : Ungkapkan rasa syukur dengan ucapan, doa, dan perbuatan baik kepada Allah dan sesama.
  3. Menjaga Hati yang Bersih : Jauhi sifat iri hati, dengki, dan keserakahan.
  4. Berzikir dan Berdoa : Perbanyak zikir dan doa untuk memperkuat rasa syukur.
Nikmat itu terbagi menjadi dua yaitu nikmat iman dan Islam. Cara mensyukuri nikmat iman dan Islam ialah dengan cara:

a.) Bersyukur dengan hati

  1. Meyakini kebenaran Islam dan seluruh ajarannya, termasuk kebenaran rukun iman, rukun Islam, dan ajaran tentang Ihsan
  2. Bercita-cita ingin memperoleh ridha Allah, bahagia dunia dan Akhirat
  3. Senantiasa mengingat Allah (Zikrullah) dan hatinya bergetar apabila dibacakan ayat-ayat-Nya
  4. Mencintai Allah dan Rasulnya, jauh melebihi dari selain keduanya
  5. Membersihkan diri dari syirik, dan kecenderungan untuk berbuat dosa
  6. Memelihara hati agar tidak memiliki sifat-sifat tercela, seperti sombong, riya, sum’ah, buruk sangka, putus asa, dendam, keluh kesah, kikir dan lainlain.

b). Bersyukur dengan Ucapan

  1. Mengikrarkan dua kalimat syahadat, yakni syahadat Tauhid dan syahadat Rasul.
  2. Membiasakan diri membaca (tadarus) Al-Quran.
  3. Berdakwah, yakni melaksanakan amar ma’ruf (menyuruh orang berbuat baik) dan  nahi munkar (melarang orang berbuat jahat).
  4. Senantiasa mengucapkan lafal-lafal zikir, seperti kalimat tauhid, tasbih, tahmid, takbir, ta’awuds, istigfar, dan disertai dengan banyak berdoa kepada Allah.
  5. Mengajarkan berbagai macam ilmu pengetahuan yang bermanfaat.
  6. Memelihara diri untuk tidak berkata-kata yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain, serta berusaha agar senantiasa berkata-kata yang bermanfaat, sopan dan ramah tamah.
  7. Sesama muslim hendaknya saling mendoakan antara lain dengan memberi dan menjawab salam.

c). Bersyukur dengan perbuatan

  1. Disiplin melakukan shalat lima waktu dan puasa Ramadhan.
  2. Mengeluarkan zakat dan menunaikan ibadah haji jika mampu, serta memenuhi syarat-syarat wajibnya.
  3. Berjihad membela Islam dan kaum muslimin bila diperlukan.
  4. Menuntut ilmu yang bermanfaat baik bagi dunia maupun akhirat.
  5. Melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam hidup bermasyarakat, seperti berbakti kepada orang tua, dan tolong-menolong dalam kebaikan.

d). Bersyukur dengan harta

  1. Mempelajari, mengamalkan, dan mendakwahkan ajaran Islam 
  2. Berjihad membela Islam dan kaum muslimin jika diperlukan
  3. Membangun masjid dan mushola.
  4. Membangun sarana pendidikan
  5. Membantu fakir-miskin dan orang terlantar.

E. Penghalang Syukur

  1. Kesombongan dan Kebanggaan Diri: Merasa bahwa semua yang dimiliki adalah hasil dari diri sendiri.
  2. Ketidakpuasan: Tidak pernah merasa cukup dengan apa yang dimiliki.
  3. Ketidaksadaran akan Nikmat: Tidak menyadari dan menghargai nikmat yang diberikan Allah.

Dengan memahami secara mendalam tentang definisi, hakikat, manfaat, dalil, dan cara mengembangkan sikap syukur serta mengidentifikasi penghalangnya, kita dapat lebih baik dalam meningkatkan kualitas hidup spiritual dan sosial kita sesuai dengan ajaran agama.

Posting Komentar

Semoga bermanfaat untuk para pembaca ...!

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak