Menjadi Hamba Allah Swt. Yang Pandai Bersyukur
Titik Fokus
- Definisi dan Hakikat Makna Syukur
- Konsep dasar Syukur dalam al-Qur’an dan Hadits
- Manfaat Syukur
- Cara Mengembangkan sikap Syukur
- Penghalang Syukur
A. Definisi dan Hakikat Makna Syukur
Syukur (al-hamd) dalam bahasa Arab berasal dari kata dasar "hamida" yang artinya memuji. Secara istilah, syukur adalah sikap mengakui dan mengungkapkan rasa terima kasih atas nikmat yang diterima dari Allah SWT. Makna syukur meliputi kesadaran akan nikmat Allah, pengakuan bahwa segala nikmat berasal dari-Nya, dan ungkapan terima kasih yang tulus atas nikmat tersebut. Syukur adalah menunjukan atau menggambarkan suatu nikmat dan menampakkannya.Cara mensyukuri nikmat iman dan Islam ialah dengan cara : Bersyukur dengan hati, Bersyukur dengan Ucapan, Bersyukur dengan perbuatan, Bersyukur dengan harta, Fondasi dari amal ibadah yaitu: Ikhlas, Bala’ atau Ujian dari Allah, Menjaga Lisan, Jujur, Takwa dan Tawakal.
Syukur adalah mengingat-ingat kenikmatan dan menampakkannya. Dengan demikian syukur berarti menghadirkan ingatan limpahan nikmat yang Allah berikan. Syukur Merupakan Rangkaian yang sangat erat dengan Amal (tindakan, aktifitas, ketaatan) dimana amal merupakan refleksi dari kesyukuran itu sendiri. Antara amal dan syukur bagai mata uang yang tidak terpisahkan. Orang yang bersyukur senantiasa menggunakan kesempatan untuk selalu mengabdi pada Allah SWT.
Menurut pendapat Abu sa’id al-Kharraz dalam buku (Abidin, 2014) mengatakan bahwa syukur adalah mengakui nikmat kepada yang memberi nikmat dan menyatakan rububiyahnya. Bersyukur berarti sadar bahwa segala bentuk nikmat yang akan datang tak mungkin dari selain Allah SWT. Diantara dasar perintah bersyukur sebagaimana dalam al-Qur’an surah Al- Baqarah ayat 152.
Allah SWT berfirman Q.S Al- Baqarah ayat 152 :
Artinya : "Maka, ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku."
Tafsir Wajiz :"{Atas semua kenikmatan itu, Allah menyuruh kaum muslim untuk selalu mengingat-Nya. Maka ingatlah kepada-Ku, baik melalui lisan dengan melafalkan pujian, melalui hati dengan mengingat kekuasaan dan kebijaksanaan Allah, maupun melalui fisik dengan menaati Allah. Jika kamu mengingatku, Aku pun pasti akan ingat kepadamu dengan melimpahkan pahala, pertolongan, dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Bersyukurlah pula kepada-Ku atas nikmat-Ku dengan menggunakannya di jalan-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku, kepada nikmat-nikmatku, dan mempergunakannya untuk berbuat maksiat.}"
Tafsir Tahlili :"{Maka dengan nikmat yang telah dianugerahkan Allah kepada kaum Muslimin, hendaklah mereka selalu ingat kepada-Nya, baik di dalam hati maupun dengan lisan, dengan jalan tahmid (membaca al-Ḥamdulillāh), tasbih (membaca Subḥanallāh), dan membaca Al-Qur’an dengan jalan memikirkan alam ciptaan-Nya untuk mengenal, menyadari dan meresapkan tanda-tanda keagungan, kekuasaan dan keesaan-Nya. Apabila mereka selalu mengingat Allah, Dia pun akan selalu mengingat mereka pula. hendaklah mereka bersyukur kepada-Nya atas segala nikmat yang telah dianugerahkan-Nya dengan jalan melaksanakan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan-Nya dan dengan jalan memuji serta bertasbih dan mengakui kebaikan-Nya. Di samping itu, janganlah mereka mengkufuri nikmat-Nya dengan menyia-nyiakan dan mempergunakannya di luar garis-garis yang telah ditentukan-Nya.}"
Syukur adalah sarana untuk memanfaatkan dan memelihara karunianya. Hati yang bersyukur dapat memperkuat dan memantapkan kebaikan yang sudah dilakukan serta akan menghasilkan kebaikan yang belum ada. Orang awam hanya bersyukur bila memperoleh rezeki material. Sementara orang-orang yang memperoleh pencerahan batin selalu bersyukur, baik ketika memperoleh nikmat atau pun tidak. Orang yang telah memperoleh nur Ilahi tidak mempedulikan nikmat maupun penderitaan, karena mereka melihat karunia dan rahmat Allah dibalik semua penampakan dan pengalaman, memenuhi ajakan penyeru Allah dan kehiduan akhirat itulah yang dinamakan syukur, karena pada dasarnya agama berporos pada dua prinsip yaitu tekad yang kuat dan keteguhan hati. Pada dasarnya syukur adalah lurusnya tekad dan sabar adalah keteguhan hati yang telah dikuatkan dengan pertolongan dan hidayah Allah SWT.
B. Konsep Dasar Syukur dalam al-Qur’an dan Hadits
C. Manfaat Syukur
- Mendekatkan diri kepada Allah : Allah menyukai hamba-Nya yang bersyukur.
- Menjauhkan diri dari keserakahan : Sikap syukur mengajarkan kemandirian dan mengurangi kecenderungan untuk mengejar materi semata.
- Meningkatkan kebahagiaan : Orang yang bersyukur cenderung lebih bahagia dan puas dengan apa yang dimilikinya.
D. Cara Mengembangkan sikap Syukur
- Mengenali dan Menghargai Nikmat : Sadari dan akui setiap nikmat yang diberikan Allah.
- Berterima Kasih : Ungkapkan rasa syukur dengan ucapan, doa, dan perbuatan baik kepada Allah dan sesama.
- Menjaga Hati yang Bersih : Jauhi sifat iri hati, dengki, dan keserakahan.
- Berzikir dan Berdoa : Perbanyak zikir dan doa untuk memperkuat rasa syukur.
a.) Bersyukur dengan hati
- Meyakini kebenaran Islam dan seluruh ajarannya, termasuk kebenaran rukun iman, rukun Islam, dan ajaran tentang Ihsan
- Bercita-cita ingin memperoleh ridha Allah, bahagia dunia dan Akhirat
- Senantiasa mengingat Allah (Zikrullah) dan hatinya bergetar apabila dibacakan ayat-ayat-Nya
- Mencintai Allah dan Rasulnya, jauh melebihi dari selain keduanya
- Membersihkan diri dari syirik, dan kecenderungan untuk berbuat dosa
- Memelihara hati agar tidak memiliki sifat-sifat tercela, seperti sombong, riya, sum’ah, buruk sangka, putus asa, dendam, keluh kesah, kikir dan lainlain.
b). Bersyukur dengan Ucapan
- Mengikrarkan dua kalimat syahadat, yakni syahadat Tauhid dan syahadat Rasul.
- Membiasakan diri membaca (tadarus) Al-Quran.
- Berdakwah, yakni melaksanakan amar ma’ruf (menyuruh orang berbuat baik) dan nahi munkar (melarang orang berbuat jahat).
- Senantiasa mengucapkan lafal-lafal zikir, seperti kalimat tauhid, tasbih, tahmid, takbir, ta’awuds, istigfar, dan disertai dengan banyak berdoa kepada Allah.
- Mengajarkan berbagai macam ilmu pengetahuan yang bermanfaat.
- Memelihara diri untuk tidak berkata-kata yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain, serta berusaha agar senantiasa berkata-kata yang bermanfaat, sopan dan ramah tamah.
- Sesama muslim hendaknya saling mendoakan antara lain dengan memberi dan menjawab salam.
c). Bersyukur dengan perbuatan
- Disiplin melakukan shalat lima waktu dan puasa Ramadhan.
- Mengeluarkan zakat dan menunaikan ibadah haji jika mampu, serta memenuhi syarat-syarat wajibnya.
- Berjihad membela Islam dan kaum muslimin bila diperlukan.
- Menuntut ilmu yang bermanfaat baik bagi dunia maupun akhirat.
- Melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam hidup bermasyarakat, seperti berbakti kepada orang tua, dan tolong-menolong dalam kebaikan.
d). Bersyukur dengan harta
- Mempelajari, mengamalkan, dan mendakwahkan ajaran Islam
- Berjihad membela Islam dan kaum muslimin jika diperlukan
- Membangun masjid dan mushola.
- Membangun sarana pendidikan
- Membantu fakir-miskin dan orang terlantar.
E. Penghalang Syukur
- Kesombongan dan Kebanggaan Diri: Merasa bahwa semua yang dimiliki adalah hasil dari diri sendiri.
- Ketidakpuasan: Tidak pernah merasa cukup dengan apa yang dimiliki.
- Ketidaksadaran akan Nikmat: Tidak menyadari dan menghargai nikmat yang diberikan Allah.
.png)





